Selasa, 23 Februari 2021

Mahasiswa semester akhir

 Hidup dan lahirnya para mahasiswa akhir itu di malam hari, d waktu itu, saat gemerlap lampu kota mulai redup, mereka membincangkan hal-hal ajaib, sesuatu yang luar biasa, seluruh dunia merasa perlu untuk mendengarkan pemikiran2 mereka 

Tapi setelah itu semua selesai, kmudian mata mereka sudah menutup, ayam berkokok, warga beraktifitas sperti biasa,  hari sudah berganti, pada akhirnya, na as nya mereka kembali bodoh, polos dan lupa apa saja yg mereka perbincangkan semalam, hha sialan memang

Kamis, 18 Februari 2021

Masyarakat Modern


Dalam suatu sore yang begitu-begitu saja, terjadilah percakapan antara saya dan teman saya, curi-curi dengar sih dia ahli filsafat kondang d daerah Sapen raya, begitu dia berbicara, bah... mati kau dibuai perkataannya, kata orang-orang sih begitu, yap kata orang-orang d kelasnya, tapi tidak dengan kataku, bagiku aslinya sih dia hanya orang yang pandai berbuai, dia ini tipe orang yang baru melihat quotes-quotes akang Nietzche di akun sabda perubahan, lalu berteriak mendeklarasikan bahwa sdh tahu segala seluk beluk pemikirannya. 

"aku bru lihat video dokumenter bgus tdi fiq, berkualitas asli, katanya masyarakat modern sperti kita ini pada suatu saat yang akan ditentukan, akan semakin meng-kota-kan diri, kota bnar-bnar mnjadi sentral peradaban, desa akan smkin kosong, mereka smua pindah ke kota, bergerak d kota, hidup d kota, desa tdk terlalu menjajikan dalam menghasilkan duit, dan kata video itu fiq (sambil menghela nafas), itu sudah terjadi d negara-negara lain sperti jepang, orang hidup d jepang itu ya hidup d Tokyo, Osaka, Hirosima dsb" 

"dan itu terjadi juga di Indonesia?" tanyaku menimpali 

"ya bisa jadi, jelas malahan, dlu sy kkn d gunkid ya isinya orang tua semua, pemudanya minim ada dsna, anak-anak para orang tua itu, ya, mereka ada d jakarta, bandung, semarang"

Sambil tertawa tipis sy pun bergumam "masa sih, hha.."

***

(keesokan harinya) kemudian tibalah saya pada suatu warung kopi d pusat kota Yogyakarta (saya tekankan sekali lagi, pusat), sorowajan, kulihat masih byk hamparan sawah-sawah dsni, petani berlalu lalang menandur berbagai macam tanaman, langit msih cerah, berupa-rupa suara burung pipit, dan serangga jangkrik berseliweran, aneh sekali, pdhal amplaz (ambarukmo plaza), mal terbesar d jogja itu, ada d dkat sini.

Kota tapi desa sekali, itulah warung kopi d sorowajan, ahh.. sy pun membayangkan kampung halaman sy d bandung, dmana lg ada tempat sperti ini d bandung, rasa2nya skrg ini, pabrik ada dmna-dimana dsna, bangunan-bangunannya itu, ya saling beradu, berebut tempat, tumpang tindih dg padatnya pemukiman penduduk, gedung pencakar langit nan indah, tpi d belakangnya deretan rumah kumuh, itu pemandangan yg lumrah disana, lalu saya pun merenung scara mendalam dan mengingat-ingat percakapan dg tman sy kmarin, "benarkah fenomena yg diperbincangkan itu terjadi?"






Selasa, 05 Mei 2020

Masa Yang Berapi-Api

sumber gambar : travelblog.id

Saat tua nanti di jakata
Betapa pastinya menjalankan semuanya
Rutinitas berjalan apa adanya
Warna datang dengan semestinya
konflik hadir dengan sewajarnya

Bukankah begitu tuan
Bergejolaknya tidak kah anda rasakan lagi

Betapa oh betapa masa ini menjadi sebuah cerita
Yang tak lekang oleh kata kata
Bara api yang membara
Menyelimuti seluruh indera

Saat sudah memutih sebuah kepala
Penipuan demi penipuan
Sirkus demi sirkus
Kepentingan demi kepentingan
Kepalsuan demi kepalsuan
Semua datang beriringan tanpa aturan

Alangkah bergairahnya sebuah ketidak pastian
Betapa menyenangkannya teka teki
Kawan, bukankah indahnya hidup itu dari ketidak-tahuan
Ketidak tahuan akan sebuah akhir
Ketidak tahuan akan pencarian


Maka daripada itu kawan
Atas segala hal yang bergoyang-goyang di dunia ini
Jangan sia-sia kan masa itu !


Kiangroke, Bandung
4 Mei 2020

Terimakasih Karena Membawa Pintu

sumber gambar: sufimuda.net

Sekian jalan kami susuri
Sejumlah duri kami temui
Tak jua kami menepi
Dimana pula diri

Selurus-lurusnya kami
Surau tiada kami hinggapi

Menolak katanya
Semesta pada diri kami ini
Dimana tempat kembali
Remang memang

Hingga berbondong-berbondong kemudian
Mereka datang pula
Membawa pintu-pintu

Harus kami katakan pada sekalian
Terima kasih karena datang
Pintu-pintu itu
Biar kami masuk kedalam dikemudian



Gondokusuman, Yk
24 Januari 2020

Yogya, Yogya, Yogya

Sumber gambar :Dikpora.jogjaprov.go.id

Lorong demi lorong
Hening yang mengantarkannya menggonggong
Kuda kuda berjalan menelusuri
Merantai kami sendiri
Sampai kami menyadari
Ombak Tiada kami temui

Kami berjalan lurus ke Malioboro
Belok ke Mangunan
Tiada jua kami temukan
Riang riang peperangan

Lalu di kelanjutan
Kami lirik jalan Sudirman kemudian

Oh sial
Sirine nampaknya harus kami nyalakan
Yogya, Yogya, Yogya
Kami meminta damai






Gondokusuman, YK, 28 September 2018

Senin, 18 Juni 2018

Mencari Benang Merah Kemerdekaan Indonesia dengan Kemerdekaan Palestina

sumber foto :
Faathir95.devianart.com
Dulu, pada saat bumi pertiwi dijajah kolonialisme. Kita mengenal sosok tokoh seperti pangeran diponorogo, kapitan patimura sampai jenderal soedirman. Mereka2 inilah sosok tokoh yg dg sangat gagah berani bertempur langsung berhadapan dg penjajah. Nyawa sudah menjadi taruhan yg semestinya siap ditinggalkan oleh mereka dan pasukannya pada saat itu. Semua dilakukan tidak lain dan tidak bukan demi terwujudny kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Disisi lain, yg semestinya jangan kita lupakan juga, kita juga tahu ada sosok sutan sjahrir, kyai wahid hasyim, kyai Agus Salim, moh Hatta sampai Soekarno. Mereka-mereka inilah yang kemudian lihai dalam upaya upaya diplomasi, perundingan dan dialog-dialog dg penjajah. Berkat mereka, setidaknya kemerdekaan Indonesia diakui secara dejure di mata dunia. Kecerdasan argumen dalam perdebatan didalamnya dan kematangan sebuah langkah dan strategi dalam upaya pembebasan menjadi suatu hal yg mesti ada, karena didalam ucapan-ucapan dan langkah mereka lah nasib bangsa itu akan dikemanakan. Dan lagi lagi Semua dilakukan tidak lain dan tidak bukan demi terwujudny kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
     
Kedua pergerakan ini, bergerilya ala jenderal Soedirman dan berdiplomasi ala Soekarno sudah seharusnya ada dalam langkah upaya mewujudkan sebuah kemerdekaan. Keduanya, ibarat kedua sisi mata uang, yang tidak bisa -dan jangan dipaksakan- untuk dipisahkan.

Sekarang, mari kita berkaca pada keadaan dimana konflik Palestina-Israel dihadapkan. Sampai saat ini sudah ada dua pergerakan besar didalam Palestina sendiri, Hamas dan Fatah. Hamas bekerja diwilayah mengangkat AK-47 dan Fatah berurusan dengan meja-meja diplomasi dan dialog. Namun sayangnya, kedua organisasi ini nampaknya sedikit 'tidak akur' didalam beberapa alur perjuangannya. Hamas yg setiap harinya selalu kehilangan nyawa-nyawa sesama saudaranya didalam sebuah pertempuran seringkali tidak setuju dengan langkah diplomasi Fatah.

Memang, sejauh pembacaan sejarah kemerdekaan sebuah negara yg sudah ada, bergerilya dan berdiplomasi, diantara keduanya sudah menjadi sebuah kewajaran tersendiri jika selalu ada perbedaan ataupun ketidak sepahaman dalam mengambil tindakan. Bahkan, dalam sebuah riwayat, jenderal Soedirman pun pernah mengatakan kepada soekarno dan jajarannya pda saat itu "berunding!? Untuk apa tuan rumah berunding dengan malingnya".
Tapi waktu tetaplah berjalan, perjuangan tetaplah berlanjut, darah tetaplah mengalir, dan perdebatan tetaplah memanas. Toh, pada akhirnya Indonesia merdeka juga.

Senin, 21 November 2016

KH Hamid Pasuruan, Sifat dan kisah Kewaliannya

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.
Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.
Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.
Kiai Hamid Pasuruan: Kini Sulit Dicari Padanannya
Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.
Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.
Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.
Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.
Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.
Dipondokkan
Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.
Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.
Tidak Suka Dipuja
Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah.
Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.
Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.
Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.
Prihatin
Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.
Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.
Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri — dua orang — yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.
Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.
Fenomenal
Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.
Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.
Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).
Lurus
Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.
Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.
Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.
Hormat
Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.
Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambhlkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.
Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
Sabar
Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.
Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.
Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.
Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.
Penyakit Hati
Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.
Bergunjing
Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”
Manusia Biasa
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.
Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.
Tahu sebelum dikasih tahu
Kiai Hamid di anugrahi mengetahui apa yang ada di benak orang Misykat misalnya, dia sering tertebak apa yang ada dibenaknya. “Beliau tahu apa maunya orang” katanya. “Saya kalau ada apa-apa belum bilang beliau sudah menjawab”.
Hal yang sama dialami Gus Shobich Ubay, Ahmad Afandi, Syamsul Huda, Gus Hadi Ahmad, dll. Rata-rata mereka punya pengalaman, sebelum sempat mengadu, diberi jawaban terlebih dahulu.
Said Amdad Pasuruan, dulunya tidak percaya pada wali. Dia orang rasional.Mendengar kewalian Kiai Hamid yang tersohor kemana-mana, dia jadi penasaran. Suatu kali ia ingin mengetes, “Saya ingin diberi makan Kiai hamid. Coba dia tahu apa tidak” katanya dalam hati ketika pulang dari Surabaya. Setiba di Pasuruan dia langsung ke pondok Salafiyah pesantrennya Kiai Hamid.
Waktu itu pas mau jamaah sholat isya’ usai sholat isya ia tidak langsung keluar, membaca wirid dulu. Sekitar pukul 20.30 WIB, jamaah sudah pulang semua. Lampu teras rumah Kiai Hamid pun sudah dipadamkan. Dia melangkah keluar, Dia melihat orang melambaikan tangan dari rumah Kiai Hamid. Dia pun menghampiri. Ternyata yang melambaikan tangan adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. “Makan disini ya” kata beliau.
Diruang tengah hidangan sudah ditata. “Maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih” kata Kiai Hamid dengan ramahnya. Said merasa di sindir, sejak itu dia percaya Kiai hamid adalah seorang wali.
-=[Sumber:Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan]=-